Bingkisan Biru

07.14 Ivonie Zahra 0 Comments




Udara di luaran sangat panas. Debu berterbangan membuatku tak nyaman. Beberapa kali aku sempat terbatuk. Aku ingin segera sampai di rumah. Tadi suasana di sekolah pun sempat membuatku sebal. Rine mengacuhkanku sepanjang jam pelajaran. Aku sendiri tak tahu apa salahku. Rine pun tak sekalipun mau mengatakannya padaku. Aku pun cuek saja terhadap sikapnya yang mendadak berubah.
Sesampai di rumah aku langsung menghambur ke kamarku. Aku mendapati bingkisan berpita biru di atas meja belajar. Aku memutar ulang ingatanku. Tadi pagi bingkisan itu tak pernah ada di situ. Tapi sekarang bertengger manis menggodaku. Atau aku pernah memesan sesuatu dengan bingkisan terbungkus biru? Aku menggeleng untuk memastikan pertanyaan pikiranku sendiri. Aku hanya mengamati bingkisan tersebut. Meraihnya dan tak ada alamat serta nama pengirimnya. Aku bergegas mencari Mama. Mungkin saja itu hadiah kejutan yang dikirim papa untukku dari Jepang.
Mama sedang sibuk di dapur. Aku memperhatikan sekilas sedang membuat kue muffin kesukaanku.
“Hmm, asyik aku bakal makan kue kesukaanku nech.” Sahutku girang. Mama tersenyum saja menatapku.
“Ma, tau nggak bingkisan di atas meja belajar di kamar Amel dari siapa?” tanyaku sambil memainkan tepung yang tak terpakai.
“Apa dari Papa?” imbuhku cepat.
“Lho memang nggak ada nama pengirimnya?” Mama balik bertanya padaku. Aku berhenti memainkan tepung.
“Kalau ada, Amel khan nggak perlu Tanya Mama.” Sahutku. Mama berhenti sejenak dari kesibukannya. Memandang mukaku yang cemberut tak jelas.
“Terus bingkisannya sudah dibuka?” aku menggeleng sebagai jawaban.
“Mama aneh!” ujarku dalam hati.
“Amel nggak berani buka, karena nggak jelas pengirimnya. Bisa saja khan Ma, bingkisan itu salah kirim atau antar.”
Mama tersenyum mendengar penuturanku. Aku makin heran dengan sikapnya.
“Ya sudah, di buka dulu sana. Siapa tahu ada petunjuk nama pengirimnya.” Usul Mama sembari kembali mengaduk adonan kue.
Usul Mama ada benarnya sech.
“Iya dech…” jawabku akhirnya. Aku kembali ke kamar mengambil bingkisan biru itu. Membukanya hati-hati agar pembungkusnya tidak rusak. Pikirku, andai bingkisan ini salah kirim. Aku masih bisa membungkus ulang dan mengirimkan pada pemiliknya.
Seusai berhasil membuka pembungkusnya. Aku terkejut bukan main dengan isinya. Sepotong busana muslimah model gamis warna biru. Dihiasi border bunga mawar cantik. Serta selembar jilbab dengan hiasan manic-manik di pinggirannya.
“Subhanllah…cantik!” pujiku dalam hati.
Ah, Mama pasti akan memuji hal yang sama tentang gamis ini. Eits, aku nyaris terlupa tujuanku membuka bingkisan ini. Mencari alamat dan nama pengirim. Aku mengubek-ubek isi kardus. Mencoba menemukan sesuatu, setidaknya secarik kertas yang bisa menjadi petunjuk. Berhasil. Lipatan kertas warna biru terselip di dasar kardus. Aku mengambil dan membaca tulisan yang tertulis dikertas tersebut. Tulisan tangan rapi dan indah dengan tinta warna biru.
Selamat milad sayang…
Semoga sisa umur Amel menjadi berkah.
Makin rajin ibadah dan jadi muslimah sholehah, amin.

Tertanda: Farisha Kamil  SE
“Mama?” aku nyaris menjerit kegirangan. Namun terburu menemui mama di dapur.
“Alhamdulilah, makaseh ya, Ma. Bikingkisan birunya indaaaaah banget deh. Amel suka.” Ucapku sambil memeluk manja mama dari belakang. Mama membalikkan badanya setelah kulepaskan. Mama tersenyum bahagia. Terlebih lagi aku sangat bahagia menjadi putri mama.
Tak lama kemudian telepon rumah berdering. Ternyata suara papa di seberang memberiku ucapan untuk hari lahirku. Aku mengucapkan terima kasih padanya serta menodong hadiah darinya, tentu saja dengan gaya bercandaku. Papa janji sudah menyiapkan untukku.
Seusai aku menutup telepon dari Papa. Dering kedua berbunyi nyaring. Aku mengangkat enggan.
“Selamat ulang tahun Amel…maaf ya tadi di sekolah sengaja nyuekin kamu” suaranya riang di seberang telepon tanpa dosa.
“ Jadi, sengaja nyuekin karena aku ultah?” suara terkekeh memekakkan telingaku.
“Dasar Rine jelek!” sahutku membalas kejutanya lalu berterima kasih atas doa dan ucapannya.

                     

Yogyakarta, 19 Maret 2011

0 comments: