Reward buat Aiman Lulus WWL

18.46 Ivonie Zahra 5 Comments

Bismillah....

Sejak pertengahan bulan lalu, Aiman perlahan sudah tidak menyusu ASI lagi. Tentu saja prosesnya tidak mudah. Teringat bagaimana dulu awal menyusui. Meski tidak menyusu ASI sejak lahir, tapi saya bersyukur bisa memberinya ASI hingga batas usia dia tak menyusu lagi.
Kenapa tidak sejak lahir? Ya, karena minimnya pengetahuan saya.  Saking pedenya pas Aiman lahir bakal bisa langsung menyusu di putting payudara saya. Tetapi kenyataannya, Aiman bayi masih kesulitan ngenyot. Hanya karena penjelasan perawat yang seharusnya tidak saya telan mentah-mentah saya terpaksa mengizinkan si perawat memberinya sufor.  Namun saya tetap sambil berusaha menyusuinya sebisa mungkin. Dulu tidak terpikir untuk menyiapkan alat pemerah ASI.

Begitu pulang dan sampai di rumah, suami berinisiatif membelikannya.  Aiman masih tetap minum sufor juga. Hingga umurnya mendekati 3 bulan, saya mencoba untuk melepas sufornya . Dengan kata lain saya hanya mengandalkan ASI saja. Alhamdulillah, berat badan Aiman justru naik dan kenaikannya sangat mengejutkan saya.

Sejak saat itu Aiman hanya menyusu ASI itupun hanya dengan sebelah payudara karena yang sebelah Aiman kesulitan akibat puting kecil. Dan ketika waktu menyapih itu tiba, cerita penuh drama membersamai prosesnya. Meski sudah saya sounding sejak umur 1,5 tahun. Namun frekuensi menyusu  Aiman makin getol saja. Saya pun tetap santai memberikan ASI dan juga susu UHT sebagai pendampingnya, bukanlah sufor.  Sampai umurnya 2 tahun, Aim masih saja getol menyusu. Sempat bingung juga bagaimana cara menyapihnya nanti. Sementara keluarga suami sudah memberi saran untuk disuwuk alias jampi-jampi ala orang tua zaman dulu. Tetapi saya menolaknya dengan halus. Bagaimanapun sejak awal saya sudah bertekad untuk menyapih Aiman dengan metode WWL ( Weaning with Love ) maka saya mengabaikan usulan itu.

Saya terus sounding Aiman kalau sudah besar tidak menyusu saya lagi. Hingga usianya mendekati 2,5 tahun drama-drama penyapihan makin terjadi. Intensitas menyusu Aim pun perlahan berkurang. Sehari biasanya lebih dari tiga kali, kini hanya sekali atau mau tidur siang dan tidur malam.  Suatu hari Aiman minta menyusu namun saya semangat sounding, dia sempat ngambek dan menangis sampai lupa menyusu lagi. Di satu sisi saya kasihan namun di sisi lain, kapan lagi saya bisa belajar menyapihnya.
Sampai suatu hari seorang teman menyindir saya secara halus, bahwasannya saya tidak niat menyapih. Tentu saja ucapan itu sempat mengusik pikiran saya. Sejak itu saya makin bertekad untuk menyapih Aiman, beragam sounding positif saya lakukan.  Saya sampaikan padanya begini;
“ Aim mau menyusu, Nak?” Aiman memandang saya sambil tersenyum.
“ Susu nya kan bat adik, Aiman sudah besar minumnya susu kotak/UHT ya..”
“Iya..” jawabnya lirih sambil berlari ke dapur ambil susu kotak.

Terus begitu sampai Aiman benar-benar tidak lagi meminta susu pada saya. Tiap saya coba tawari dia tidak mau, menjawabnya persis dengan sounding yang saya lakukan. Untuk itulah saya memberi reward Aiman dengan perjalanan travelling selama seminggu dengan papanya. Terutama misi saya mengajak Aiman supaya bisa menikmati naik kereta api. Selama ini semua alat transportasi nyaris sudah dicobanya kecuali kereta api dan pesawat.


Alhamdulillah, selama travelling Aiman Nampak senang dan bahagia. Apalagi pas travelling sempat bertemu dengan anak teman saya yang usianya lebih muda dari Aiman tetapi dia enjoy bermain-main.  Reward tidak harus yang mahal ataupun banyak membelikan mainan mewah. Tetapi dengan perjalanan dan bertemu orang-orang baru akan melatih dia bersosial. 

5 komentar:

  1. Selamat buat Aiman yang sudah berhasil melalui proses penyapihan, Papa bangga sama kamu Nak.
    Semoga selalu sehat dan kita diberi rezeki untuk bisa travelling lagi nanti, aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, terima kasih juga papa kerjasamanya. Aamiin, mumpung belum punya adik yak hihihih

      Hapus
  2. wah...
    harus tega ya
    saladin kalo ngambek pake acara nangis gulung2 tantrum..hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Aiman awalnya juga gitu. tapi ntar lama-lama udah gak. Asal kita kudu pintar2 mengalihkannya.
      With love-nya kalau sudah di ending. beneran, dia bakal gak mau dan bilang susu mama buat adik, kalau soundingnya begitu atau minum susu kotak/uht aja :)

      Hapus
  3. saya juga kecewa dengan sikap rekan-rekan yang belum seluruhnya bisa memahami pro ASI.
    alhamdulillah beberapa sudah mulai pro meski perjuangannya berat karena sop yang sudah mengakar sulit dilawan.

    senang bisa kenalan sama mas Aim. selamat lulus WWL :)

    BalasHapus