Kamis, 09 Maret 2017

Merasakan Sensasi Pijatan Tradisional Di Artha Spa Hotel Atria Malang

Mbak cantik yang memijat saya di Artha Spa


Sejak memutuskan menjadi ibu rumah tangga, dunia saya banyak berkutat di rumah. Bangun pagi memasak menu masakan untuk suami dan anak. Apalagi sekarang sudah ada anak kedua. Sejak awal menikah, saya memang tak berniat memiliki asisten rumah tangga. Dua tahun menjalani rumah tangga masih menumpang di rumah bumer. Sehingga semua pekerjaan saya sendiri yang mengerjakan. Selain saya, ada juga kakak ipar yang tinggal bersama pula.


Memilih untuk tidak memakai asisten rumah tangga bukan tanpa alasan. Selain belum membutuhkan, saya merasa masih sanggup menghandle pekerjaan rumah tangga. Meskipun saya sudah memiliki anak pertama dan memulai usaha di dunia kuliner. Sesekali suami bersedia membantu mengasuh Aiman, sementara saya berkutat dengan pekerjaan rumah tangga.

Akan tetapi pilihan itu memang berimbas pada stamina tubuh. Adakalanya saya pun mengalami kondisi tubuh yang menurun karena banyaknya pekerjaan yang saya lakukan sendiri. Kalau sudah begitu, paling saya memilih meluangkan waktu untuk beristirahat. Mengingat saya bukan tipikal orang yang kalau tubuh kecapekan lalu melakukan pemijatan tubuh.

Seumur-umur urusan pijat-memijat bisa dibilang hitungan jari. Biasa Cuma minta tolong emak sewaktu masih bujang dan minta tolong suami yang mijatin kalau dirasa capek. Kenapa gak mau dipijat? Alasannya sih simple, takut sakit dan malu hehehe. Selama menikah, saya baru sekali dipijet seluruh badan oleh orang lain. Namun untuk menentukan tukang pijetnya pun gak sembarangan. Biasanya saya bertanya atau minta rekomendasi teman terlebih dahulu. Waktu itu saya memutuskan pijet sama buleknya teman.


Namun, akhir-akhir ini tubuh saya berasa mudah capek dan kaku. Tak bisa dipungkiri selain faktor usia, mengasuh dua anak sendiri  yang sedang aktif-aktifnya sangat menguras energi. Saya pun menyampaikan pada suami untuk melakukan aktifitas pemijatan tubuh. Rencana saja tidaklah cukup, saya mesti memilih waktu yang tepat mengingat akan membutuhkan waktu yang sebentar. Bagimana nasib Aiman dan Aira kalau saya lagi pijat, mesti ada yang menjaga mereka khan?

Siang itu saya memutuskan untuk menitipkan Duo Ai pada bulek suami. Kebetulan beliau sedang tidak bekerja. Sementara itu, saya meminta tolong pada suami di jam istirahatnya untuk mengantar ke Artha Spa Hotel Atria Malang. Lokasinya memang agak jauh dari rumah, tetapi masih di seputaran kota. Kenapa memilih Artha Spa Hotel Atria? Karena saya mendapat voucher traditional message dari spa tersebut. Mengingat masa berlakunya sudah mepet karena saya kelupaan.

Sampai di hotel, saya menunjukkan vocher-nya terlebih dahulu ke bagian resepsionis. Lalu mereka memberitahu saya letak Artha Spa yang berada di lantai 3. Saya pun bergegas ke sana dengan suami. Untuk menuju lokasi Artha Spa saya memilih menggunakan lift yang berada di samping Canting Restaurant. Keluar dari lift sempat celinguk-celinguk sesaat, lalu saya berbelok ke kanan. Artha Spa berada di depan pintu keluar menuju kolam renang hotel. Di depan meja resepsionis, saya disambut oleh dua orang wanita cantik berpakaian rapi. Saya menyodorkan voucher untuk memastikan masih berlaku tidaknya. Alhamdulillah, rupanya masih berlaku dan saya dimohon menunggu sejenak.

Tiga Kamar Berderet Di Artha Spa

Sementara itu, saya meminta suami untuk menunggu di lobi saja. Awalnya sih saya menyuruhnya di dekat kolam renang biar gak jenuh. Tak berapa lama mbak cantik yang saya lupa namanya mempersilakan saya masuk. Ruang Artha Spa-nya termasuk kecil, di luar ekspektasi saya. Ruangannya terdiri sebuah ruangan memanjang, kemudian disekat menjadi kamar-kamar berjumlah tiga dengan material yang tidak kedap suara. Namun, ruangan kamarnya lumayan luas, bersih, tercium wewangian aromaterapi dan nyaman. Dindingnya dilapisi wall stiker anyaman dan lukisan. Di pojok sebelah kiri ranjang terdapat rak susun kecil yang bisa digunakan untuk menaruh barang bawaan.

Ruang Kamar Pemijatan Di Artha Spa

Mbak terapisnya memberi saya selembar kain untuk ganti sebelum dipijat. Begitu siap, saya langsung pasang tubuh dengan posisi tengkurap. Mbak-nya sempat menanyakan pada saya, suka yang pijatan keras atau gimana. Saya pun meminta yang sedang saja. Pemijatan dimulai dari ujung jari perlahan-lahan. Biasanya orang kalau dipijit sampai ketiduran ya, saya malah sempat mainan handphone hehehe. Sesekali mbaknya mengajak ngobrol saya lalu hening lagi. 

Traditional Massage merupakan pemijatan seluruh badan yang menggunakan cream. Durasi waktunya selama enampuluh menit. Di Artha Spa sendiri terdapat empat varian treatment yang ditawarkan. Diantaranya
-          Refreshing Treatment
Peremajaan tubuh diawali dengan pemijatan, scrub dan masker dengan durasi satu jam lebih.
-          Body Polish
Perawatan tubuh diawali dengan pemijatan dan scrub dengan durasi waktu 75 menit.
-          Aromatheraphy Massage
Pemijatan seluruh badan dengan menggunakan ail aromatheraphy dengan durasi waktu 60 menit.


Saya menikmati sensasi setiap pijatan di semua bagian tubuh. Akan tetapi saat dpijat dibagian tertentu memang terasa sakit sampai meringis menahannya . Tak bisa dipungkiri karena efek jarang pijat sehingga tubuh berasa kaku semua. Sehingga kedepannya jadi pengen membuat jadwal berapa bulan sekali diusahakan untuk melakukan pemijatan tubuh agar lebih segar dan tidak kaku. Waktu satu jam pun tak terasa saking enaknya dipijet. Saya merasakan setelah dipijet tubuh  jadi lebih ringan saat bergerak.


14 komentar:

  1. Hai mba ivonie, salam kenal :)
    Warga Malang ya? Kebetulan banget aku juga stay di Malang hehee. Btw, ada pijat buat bumil gak ya? Lagi nyari2 nih tukang pijit buat bumil, secara bumil kan gampang pegel haha. Kalo ada rekomin dong mba he he. Mampir yaaa ke blog saya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo salam kenal mbak zahra.
      Iya, saya stay di Malang mbak. Wah Malang-nya daerah mana mbak ?
      Kalau pijet buat ibu hamil bisa coba di toddy baby spa di daerah tidar. mereka melayani pijet ibu hamil atau di nadya spa jl. Semeru mbak

      Hapus
  2. Itu mas ihwan nunggu selama 2 jam mbak?

    udah coba ida salon belum mbak? Di belakangnya Wong Solo, punya orang arab.. murah banget di sana, bahan2nya homemade. Enak kalau therapisnya anaknya sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya :D
      Wah, aku malah belum tahu.
      Makasih infonya ya, kpan2 bisa dicoba nih

      Hapus
  3. Aku juga luamaa ga pijat, padahal badan sudah terasa kaku.
    Kalo pas cocok ama tukang pijatnya bisa sampai ketiduran emang :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Agendakan buat pijet kalau gitu. Sebelum atau sepulang dari Yogya nih ?

      Hapus
  4. Aku suka banget nget nget pijet! Bookmark kalo kapan2 main ke Malang <3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, berarti rajin pijet ya mbak. Asyiik, kalau ke Malang kabar2 ya mbak

      Hapus
  5. wuah ...
    Jadi ingin mencoba juga !!!
    :)

    BalasHapus
  6. Siapa pun bisa ke sini? Atau hanya ibu-ibu saja?

    BalasHapus
    Balasan
    1. siapa saja pak, bapak2 juga bisa. Pas kamar sebelah bule yg pijat xixixixi

      Hapus
  7. Saya sptnya tau tuh nama terapisnya ..,klo ga salah ATIK namanya bnr ga mbak?

    BalasHapus