Minggu, 21 Februari 2021

Mengenal Makanan Ramah Iklim ala Omar Niode Foundation

 


Pertama kali dengar istilah makanan ramah lingkungan, reaksi saya tentu saja jadi penasaran. Secara selama ini sebagai ibu rumah tangga yang sering masak di rumah jadi bertanya-tanya dong. Apa makanan yang saya olah di rumah selama ini sudah ramah lingkungan belum ya? Makanan yang ramah lingkungan seperti apa sih?

Menjawab rasa penasaran saya akan makanan ramah lingkungan, mendapat kesempatan ikut webinar dengan tajuk “ Memilih Makanan Ramah Iklim +39 Resep Gorontalo” yang diadakan oleh Omar Niode Foundatioan yang menghadirkan narasumber yang berkompeten. Acara webinarnya sendiri diadakan pada hari Minggu, 14 Februari 2021 dimulai pukul 14.00-16.00 yang dipandu oleh Mbak Noni Zara, seorang culinary host sekaligus food traveler.

Sebelum mengikuti acara tersebut saya sempat keluar rumah guna mencari perabot rumah tangga sehingga gak berani lama-lama. Takutnya nanti telat waktunya masuk zoom webinar dan pas jam 2 siang begitu masuk acara sudah dimulai, sungguh tepat waktu rupanya. Pengalaman ikut webinar beberapa kali molor dari jam yang sudah di jadwalkan.

Tentang Omar Niode Foundation




Mungkin sebagian ada yang belum mengetahui mengenai Omar Niode Foundation ya, sama dong seperti saya dan melalu acara webinar kali ini jadi lebih mengenalnya. Omar Niode Foundation merupakan sebuah organisasi nirlaba yang dibentuk sejak  akhir tahun 2009 yang berperan dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia, citra budaya dan kuliner nuasantara khususnya Gorontalo, Indonesia dan mancanegara.

Pada kesempatan webinar kali ini Terzian Ayuba Niode selaku Sekretaris Omar Niode Foundation menyampaikan beberapaa patah kata. Bahwasannya Omar Niode Foundation telah melaksanakan beberapa kegiatan dengan berbagai mitra di dalam maupun luar negeri. Kegiatan yang dilakukan meliputi pertunjukan budaya dan icip-icip kuliner Gorontalo. Bahkan acara tersebut diliput oleh 50 media cetak, elektronik dan blogger.

Selain itu Omar Niode Foundation telah menerbitkan 15 buku, di antaranya Trailing the Taste of Gorontalo yang meraih  Gourmand World Cookbook Award, Best of the Best 1995-2020 kategori Food Heritage dan menjadi kontributor Bab Indonesia pada buku At the Table. Food and Family around the World, yang juga memperoleh Gourmand Award.

Pada kesempatan webinar ini juga sekaligus menerbitkan e-book “Memilih Makanan Ramah Iklim + 39 Resep Gorontalo”. Seperti yang disampaikan oleh Terzian Ayuba Niode melalui e-book ini berusaha mengenalkan konsep makanan ramah iklim dan bumi dari berbagai aspek terkait. Guna kedepannya makanan perlu diubah untuk masa depan yang sehat bagi manusia maupun planet Bumi. Salah satu contohnya dengan mengurangi konsumsi daging serta makanan yang lebih banyak diproses untuk kemudian lebih mengarah ke makanan yang berbasis nabati.

 

Seperti Apa Makanan Ramah Iklim?




Di kesempatan kedua, waktunya Bu Amanda Katili Niode selaku Manager Climate Reality Indonesia  menyampaikan bahwasannya pangan dari hulu ke hilir dimulai dengan produksi sampai dengan konsumsinya, limbahnya, menjadi salah satu penyebab krisis iklim yang terjadi sekarang ini. Dampak yang dirasakan mengakibatkan beberapa bencana. Namun pangan juga merupakan solusi dari krisis iklim yang sedang terjadi.

Pada tahun 2020 saja sudah terjadi dampak dari krisis iklim seperti banjir di musim hujan, kekeringan atau badai dan covid 19 yang dialami oleh 51,6 juta orang. Bisa jadi bila krisis iklim ini kurang diperhatikan akan berdampak lebih besar lagi di masa depan. Selama tahun 2020 saja sebanyak 2925 bencana yang sudah terjadi di Indonesia dengan adanya banjir, tanah longsor dan angin puting beliung yang mendominasi.

Hal tersebut terjadi karena kegiatan manusia yang berlebihan. Mulai dari pertanian, pembakaran hutan, transportasi dll seperti yang tertera dalam gambar di bawah ini. Semua itu tadi mengakibatkan mengeluarkan gas-gas yang banyak dan mencemari lingkungan termasuk atmosfer bumi.

Sistem pangan yang ada bisa mengakibatkan krisis iklim, sedangkan sistem pangan yang tidak benar bisa berdampak pada krisis kelaparan dan krisis pandemi. Kalau berbicara soal makanan pastinya kan semua senang. Karena makanan sebagai simbol kehidupan, energi, keluarga, komunitas. Lantas bagaimana menyikapi krisis iklim yang terjadi. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan lho. Jadi bisa dibilang makanan ramah iklim itu makanan yang dari hulu ke hilir dan mampu mengurangi dampak mulai dari proses pemilihan bahan hingga proses produksi sampai dikonsumsi tidak merusak lingkungan.




Pemetaan Kuliner Tradisional Nusantara

Kuliner tradisional nusantara ada beragam jenisnya tapi untuk pemetaannya sendiri menurut Nicky Ria Azizman selaku Ketua Sobat Budaya bisa dilihat dari ketersediaan kuliner  yang ada apa saja. Ada 30 ribu kuliner  yang bahkan satu kuliner butuh waktu lama menghabiskannya.

Pemetaan dimulai dengan basic menggunakan biologi evolusioner. Kuliner tersebut dilihat dari kekerabatan. Terutama bila dilihat dari segi budaya, untuk informasi selangkapnya bisa dilihat di website Sobat Budaya. Ada 70 ribu budaya yang sudah dikumpulkan dan terdata dalam website mereka mulai dari alat musik sampai kuliner.



Pemetaan kuliner tradisional sendiri disampaikan dengan aplikasi yang dinamai Nusa Kuliner. Di situ bisa dilihat keragaman kuliner tradisional misalnya kekerabatan jenis sambal nusantara. Bahkan pedasnya sambal suatu daerah dengan daerah lainnya tidak sama. Namun bisa dilihat dari kekerabatan jenis bumbu-bumbunya. Bila dilihat di aplikasi dari pemetaan, bumbu yang muncul lebih menonjol sering digunakan misalnya bawang merah, cabe dll. Namun di sisi lain ada bahan yang tidak semua daerah memilikinya, misalnya andaliman hanya ada di daerah Batak, Sumatra Utara. Salah satu bahan baku sambal andaliman.

Memilih Makanan Ramah Iklim  Khas Gorontalo

Negara Indonesia ini memiliki ragam kuliner nusantara. Bahkan bisa dibilang setiap daerah memiliki kuliner khasnya. Nah, kali ini Zahra Khan seorang Ahlli Teknologi Pangan, Pelaku UMKM, Penyusun Resep akan memperkenalkan ragam kuliner yang ada di Gorontalo. Di daerah sana kulinernya kebanyakan menggunakan bahan baku ikan. Di Gorontalo, terutama di Teluk Tomini maupun perairan Gorontolo banyak ditemui ikan yang sering diolah dengan cara yang unik seperti yang divisualisasikan dalam bentuk video saat webinar.

Beberapa makanan khas Gorontalo yang namanya gak kalah unik seperti Bilenthango, Gohu Putungo, Ilepa’o dan masih banyak lainnya. Kalau dilihat dari prosesnya makanan Gorontalo tidak diolah dengan digoreng atau menggunakan minyak. Biasanya lebih banyak dibakar atau direbus sebentar.

Di Gorontalo lebih banyak mengonsumsi ikan dan sedikit sayur. Ya ada sih sayur namun jenisnya tidak sebanyak di Jawa. Warga sana memanfaatkan sayur yang ada di sekitarnya seperti jantung pisang dan bunga pepaya gantung yang makannya dicampur dengan ikan. Ada tagline Orang Gorontalo kalau tidak makan ikan, tidak makan. Menu yang ada di Gorontalo kalau didata ada banyak ragamnya dan ada sedikit kemiripan dengan menu makanan di daerah lain namun tetap memiliki ciri khas tersendiri.

Zahra Khan bersama  Bu Amanda Katili yang merespon baik renacana penyusunan e-book ini berharap dengan penyusunan e-book makanan ramah iklim resep kuliner Gorontalo ini bisa bercerita sedikit mengenai kuliner Gorontalo. Dan memperkenalkan makanan yang ramah iklim. Makanan yang sehat tidak harus mahal asal kita rajin berkreasi dan berpikiran menerapkan pola hidup sehat.

Mengenal Ragam Kuliner dari Sang Pakar Wiliam Wongso




Bagian ini ini yang saya nantikan, secara siapa sih yang gak kenal pakar kuliner Wiliam Wongso? Bahkan beliau pernah memperkenalkan kuliner rendang sampai keluar negeri. Hal itu pula membuat Gordon Ramsay tertarik meliput budaya dan proses memasak rendang.

Menurut beliau, kita tidak bisa memperkenalkan makanan hanya dengan sekedar rasa. Karena bila hanya dengan mengandalkan rasa, orang saat disajikan sebuah masakan akan bereaksi biasa saja mungkin hanya mengatakan saya suka ini. Namun selanjutnya akan lupa dengan rasa makanan yang disantapnya. Lain halnya bila masakan diperkenalkan dengan embel-embel budayanya akan menjadi daya tarik dan terbelalak. Sementara rasa itu merupakan hasil dari budaya.

Tanpa adanya budaya, mana mungkin tercipta aneka kuliner dengan nama-nama unik khas daerah asalnya. Beliau juga menceritakan proses pembuatan buku kuliner yang berjudul Flavors of Indonesia.

Saat menu-menu yang disajikan oleh Wiliam Wongso saya terkagum – kagum dengan plating-nya. Namun menurutnya plating menu tersebut beliau bikin untuk disajikan tamu VVIP saja. Kalau makanan rumahan sih gak perlu ya. Setiap bentuk menu yang disajikan tergantung dengan presentasinya.

Dalam kesempatan ini Wiliam Wongso juga menyampaikan dukungannya terhadap upaya pelestarian kuliner nusantara seperti yang telah dilakukan oleh Omar Niode Foundation. Di era sekarang yang sangat erat dangan sosial media, internet ada hal yang tidak dapat dilakukan seperti googling rasa, tapi musti experience langsung. Tapi dengan internet kita bisa menginformasikan budaya kuliner Indonesia yang beragam sehingga orang tertarik untuk mencobanya.

 “Dengan makin majunya peradaban  kita tidak boleh mengabaikan budaya kuliner Bangsa Indonesia. Selain melestarikan, kita wajib utk meningkatkan citra Tradisi Kuliner Indonesia, agar bisa masuk dan dikenal dalam peta kuliner dunia.” Ujar  Wiliam Wongso.

Mengenal Lebih Dekat Masakan Gorontalo bersama Olamita Resto




Pada sesi ini Mas Ihsan Averroes Wumu memperkenalan lebih dalam mengenai ragam kuliner Gorontalo yang dijualnya lewat Olamita Resto. Hal tersebut dilakukan agar orang luar Gorontalo bisa mencoba menu masakan Gorontalo di Jabodetabek. Restoran ini menyajikan masakan Gorontalo mulai bulan Mei 2016 dan tetap bisa survive hingga sekarang.



Menurutnya menu yang disajikan dari Masakan Gorontalo memang lebih banyak terbuat dari ikan. Ikan dari laut timur bisa dibilang sangat sehat. Beda laut rasa ikannya pun beda. Sama halnya seperti yang disampaikan Pak Wiliam, orang Kalimantan lebih suka ikan sungai, mereka gak suka makan ikan laut.

 

Bagaimana Upaya Kita Memilih Makanan Ramah Iklim



Kalau masyarakat Gorontalo sudah berupaya melestarikan kuliner mereka yang ramah iklim, semestinya kita pun bisa melakukannya. Ada banyak upaya dalam memilih makanan ramah iklim termasuk juga dengan pemilihan bahan baku serta prosesnya. Kalau di Jawa biasa menu yang lebih ramah iklim itu menu yang dikukus, misalnya nih menu Botok.

Untuk membuat botok banyak bahan yang bisa dipilih, jantung pisang pun bisa dibikin  botok dan enak sekali lho. Proses memasaknya tidak perlu memakai minyak karena hanya terdiri dari jantung pisang yang direbus sebentar, bumbu dan dibungkus dengan daun pisang.

Ke depannya saya akan berusaha memilih dan mencoba menu makanan yang ada di e-book Memilih Makanan Ramah Iklim + 39 Resep Gorontalo sebagai pilihan menu sehari-sehari yang disesuaikan dengan ketersediaan bahan di lingkungan rumah. e-book tersebut dapat diunduh secara gratis di sini .Atau bisa juga memasak makanan dengan porsi yang cukup sehingga tidak sampai membuang makanan yang tidak habis dimakan. Kalau di Jawa ada juga sih menu yang tidak habis sekali makan masih bisa diolah atau makan lagi keesokan harinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1 komentar:

  1. menarik banget ya mbak ivone, makanan ramah iklim khas Gorontali itu sehat ya mbak
    karena banyak yg g digoreng,tetapi direbus

    BalasHapus