Kamis, 31 Oktober 2013

Kesabaran Dimana Kau Berada?



Semasa lajang, bisa dibilang saya orang yang sabar menghadapi segala hal. Menjalani hidup sederhana cenderung pas-pasan pernah dengan sabar. Apapun hal yang sekiranya membuat saya bersabar dalam hidup ini.

Bila dirunut dengan cerita detail, mungkin akan habis berlembar-lembar halaman. Ujungnya bisa jadi sebuah ide menulis novel kali ya hehehe. Ya, dulu dengan sekarang jelas sekali perbedaannya. Dahulu saya sanggup bersabar ketika bekerja ke luar negeri dengan majikan orang asing yang tidak sama dengan adat dan perilakunya. Tidak hanya sampai di situ, saya termasuk orang yang sabar menanti jodoh. Bagaimana tidak, di usia saya waktu itu nyaris semua teman sebaya maupun zaman sekolah telah menemukan jodohnya dan memiliki anak. Sementara saya masih harus bersabar hingga menemukan jodoh saya.
Namun semua serasa berbeda setelah saya menemukan jodoh, menikah dan memiliki anak. Sungguh, kesabaran yang dulu pernah saya miliki tak ada apa-apanya. Entah, berapa banyak lagi stok sabar yang harus saya miliki. Karena kini bukan hanya menghadapi suami dan keluarga, tetapi telah ada anak. Ya, anak yang saya nantikan dengan sabar setelah Sembilan bulan dalam kandungan.
Kenyatannya? Kemana kesabaran yang saya punya dulu untuk mengahadapi Aiman, putra pertama saya? Sedari awal saya terus memupuk sikap sabar dalam membesarkan dan merawat Aiman. Tetapi seiring berjalannya waktu, saya sering merasa tak sabar menghadapi polah Aiman. Mulai dari dia menangis, memuntahkan makanannya hingga sikap merengek yang tak saya tahu maksud keinginannya.
Tanpa sadar saya sempat keceplosan sedikit membentak atau meninggikan nada suara. Sungguh, semua ilmu yang saya pelajari di buku parenting menguap. Sehabis bersikap begitu, batin saya yang menangis dan memberontak. Acapkali kalau saya sudah di ambang batas kesabaran, saya memilih menyingkir dari hadapan Aiman sejenak. Menarik nafas sekaligus istighfar atas sikap saya yang tidak seharusnya dilakukan pada Aiman. Namun saya hanya manusia biasa, ibu yang sampai kapanpun belajar menjadi ibu yang bijak untuk anak-anak saya kelak. Tidak ada sekolah bagi orang tua, namun bukan berarti tidak mau belajar.
Sebuah harapan kecil, semoga saya bisa lebih sabar merawat dan membimbing Aiman hingga kelak waktunya saya lepas, aamiin.
Maafkan mama ya, Nak, bila sengaja maupun tidak membuat hatimu terluka, peluk Aiman…

Malang, 31 Oktober 2013

7 komentar:

  1. aaamin...
    semakin besar anak, harus semakin diperbanyak stok kesabarannya mbak.. apalagi kalo nongol lg adiknya, dikali dua..:D

    tapi kembali lagi Alloh tidak akan menguji, melainkan dengan kadar kesanggupan umat2nya, bukan?:)

    sama sy juga begitu, mari sama2 kita belajar...^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, aku pun berpikiran begitu. Hanya saja kalau dia besar kemungkinan ditanya maunya apa masih bisa menjawab, lain halnya sekarang masih dalam bentuk rengekan :D

      Hapus
  2. amiin....
    huft..menjadi ibu memang berat...
    saya sebagai seorang laki-laki juga mesti instrospeksi diri sejak kini...
    bahwa seorang istri punya tugas berat yang mesti mendapat bantuan suami secara lebih extra...


    ya..untuk membentak anak...saya kira jangan pernah..anak harus dididik selembut mungkin.....
    kelak insyaallah akan menjadi anak yang luar biasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, dengan seiring pertumbuhannya . saya semakin belajar untuk sabar :)

      Hapus
  3. aminn... semoga kembali menemukan kesabaran dan mengaplikasikannya :)

    toh, selama mau belajar bersabar, sesekali out of control dengan marah2 menurutku juga manusiawi kok

    BalasHapus
  4. namanya manusia tidak akan selalu sabar , lama-kelamaan yang sabar akan berontak :)

    BalasHapus
  5. Kapan terakhir saya menulis?
    please visit link Tel-U

    BalasHapus