Resensi: On a Journey

20.24 Ivonie Zahra 12 Comments


Judul Buku : On a Journey
Penulis       : Desi Puspitasari
Cetakan     : Pertama, Januari 2013
Penerbit    : Bentang
Tebal Buku: vi+266 halaman






Apa itu hidup? Sesekali boleh minggat.

Rubi Tuesday berteman selama dua tahun dengan Stine. Rubi menyukai Stine, lelaki yang membuatnya nyaman dan nyambung membahas  hal apa saja dengannya. Namun Stine menolak ketika Rubi mengungkapkan perasaannya.
Rubi patah hati.  Dia menjadi seseorang yang cengeng dan harinya menjadi muram. Dia memutuskan untuk menghindari Stine dengan cara melakukan perjalanan tanpa tujuan. Berbekal sepeda tua dan ransel dengan bentuk seperti samsak tinju. Rubi hanya memberitahu Phie, sahabat baiknya kalau akan melakukan perjalanan.
Selama perjalanan Rubi bertemu dengan beragam orang dengan karakternya. Dave, seorang dokter yang ditugaskan di kota terpencil. Si Ma’am, Pak Oto dan Pak Sam pemilik warung makan. Dimana Rubi bekerja di warungnya sebagai pencuci piring.  Hingga pada titik kesadaran, sejauh apapun perjalanan yang ditempuhnya tanpa tujuan. Rubi dihadapkan pada pilihan untuk pulang.
Sepulang dari perjalanan itu, dia kembali ke rumahnya. Menemukan setumpuk buku di depan pintu rumahnya. Mungkinkah stine yang mengirimnya? Akankah Rubi bertemu kembali dengan Stine?

Novel ini ditulis dengan setting luar negeri, tepatnya daerah Diavabre. Suatu nama daerah yang jelas sangat asing terdengar bagi saya tentunya. Diceritakan dengan alur flashback, awalnya sempat membosankan di bagian awal. Namun semakin dibaca per bab, ceritanya lumayan menarik. Banyak pembelajaran hidup yang bisa dipetik dari cerita di novel ini. Namun secara penilaian saya pribadi, ide cerita ini meski menggunakan setting luar negeri. Masih terasa kesannya lokalnya.

Well, secara keseluruhan novel ini menarik untuk dibaca.



12 komentar:

  1. kalo aku gak tau siapa penulisnya, aku pasti bakal ngira ini novel terjemahan :)
    poin 3.8/5 dari aku... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pasti karena covernya ya mbak? Hehehe

      Hapus
    2. Bukan Von, tapi dari jalan ceritanya....
      setting, alur, dsb itu seperti novel-novel terjemahan yang biasa aku baca... :)

      Hapus
    3. kalau untuk setting seperti novel terjemahan, aku agak setuju. Tapi kesannya masih terlalu dipaksakan mbak :)

      Hapus
  2. Aku selalu terkesan dengan tulisan Desi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku iya mbak, tapi untuk novel ini aku agak kurang. Mungkin krn settingnya terlalu dipaksakan kebarat-baratan kali ya :D

      Hapus
  3. sekarang hampir semua judul buku kok ngenggris ya...hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah lho...
      Padahal judul bahasa Indonesia pun bagus dan lebih membumi ya jeng :D

      Hapus
  4. hm..hm...aku blm pernah baca novel mb Des, tapi kalo cerpennya sih sering..:)

    jadi gak bisa komen banyak hehhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hampir semua novel mbak Desi aku udah baca. Dari yang pertama sampai ini teteh
      Dan aku juga lebih suka baca cerpennya :)

      Hapus
  5. Kesan perjalanannya mirip serial petualangan Enid Blyton kali ya? Lima Sekawan, hehe.
    "Setingannya terlalu dipaksakan kebarat-baratan", aku sepakat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku belum pernah baca novel Enyd Blyton yang Lima Sekawan hehehe
      Secara aku gak tahu diavabre itu di negara mana :D

      Hapus