3 Fakta Mengenai Orang yang Pernah Mengalami Kusta

06.14 aurabiru 14 Comments

 


Assalamu’alaikum, apakabar semuanya? Semoga selalu sehat ya di tengah kondisi yang masih pandemi begini.  saya mau bahas sesuatu nih. Sesuatu yang mungkin belum diketahui oleh banyak orang. Saya mau bahas beberapa fakta tentang OYPMK. Nah, sebelum lanjut, saya mau tanya dulu nih. Teman-teman udah pada tau belum sih, apa itu OYPMK? Adakah di antara kalian yang punya kenalan OYPMK? Buat kalian yang punya kenalan OYPMK, pernahkah kalian perhatikan gimana kehidupan mereka?

Kebetulan saya mendapatkan kesempatan memgikuti webinar pada 15 Juni 2021 yang diadakan oleh Berita KBR, NLR dan Ibu Ibu Doyan Tulis berupa talkshow yang mengusung tema Memberikan Kesempatan Kerja bagi Disabilitas dan Orang yang Pernah Mengalami Kusta. Menhadirkan beberapa narasumber yang salah satunya OYPMK yaitu Mas Muhammad Arfah.




OYPMK adalah singkatan dari Orang yang Pernah Mengalami Kusta. Artinya, mereka dulunya adalah penderita kusta, tapi sudah dinyatakan sembuh dari penyakitnya. Kusta adalah penyakit yang menyerang saraf. Gejala kusta biasanya ditandai dengan munculnya bintik putih di kulit. Bintiknya seperti panu, tapi rasanya nggak gatal, bahkan nggak terasa sama sekali.

Kusta memang penyakit menular, tapi penularannya lama banget dan harus ada kontak intens sama si penderita. Kusta baru bisa menular setelah melalui masa inkubasi selama 40 hari sampai 40 tahun. Setelah tertular, gejala kusta baru akan muncul sekitar 3 sampai 5 tahun kemudian. Untuk penyembuhannya, kusta bisa disembuhkan dalam waktu 6 bulan sampai 2 tahun setelah diberikan kombinasi antibiotik. Jenis, dosis, dan lamanya pemberian antibiotik ke setiap pasien nggak sama, lho. Tergantung dari jenis kusta yang mereka alami. Pengobatan ini bertujuan menormalkan saraf yang rusak, memperbaiki anggota tubuh pengidap yang sempat cacat, dan mengembalikan fungsi anggota tubuh.

Setelah dinyatakan sembuh dari kusta, mereka akan punya identitas baru yaitu OYPMK. Nah, fakta apa aja sih yang perlu diketahui secara luas tentang OYPMK? Yuk, kita bahas satu per satu.

 

1. Fakta Medis

Kusta adalah penyakit medis. Mulai dari proses penularan, gejala, hingga penyembuhannya nggak bisa lepas dari tindakan medis. Dari sisi medis, ada beberapa fakta yang harus diketahui dan dipahami oleh kita semua biar nggak salah persepsi lagi. Inilah beberapa fakta medis terkait OYPMK.

a) OYPMK nggak menularkan penyakit

Orang yang dinyatakan sudah sembuh dari kusta nggak bisa menularkan penyakit yang pernah mereka alami pada orang lain. Saat mengidap, mereka bisa menularkan meskipun waktunya sangat lama. Namun, saat sudah sembuh, mereka sama seperti orang normal lain. Logikanya, kalau virus penyebab sakitnya udah nggak ada, lalu gimana ceritanya bisa nular coba?

Namun, OYPMK berpotensi mengalami kecacatan anggota tubuh kalau terlambat ditangani atau penyakitnya yang parah. Akibat yang ditimbulkannya hanya terjadi pada mantan pengidapnya itu sendiri, bukan pada orang lain. Jadi kalau kalian punya kenalan OYPMK, nggak pelu takut ya. Mereka nggak bakal nularin penyakitnya, kok.

b) OYPMK bisa beraktivitas layaknya orang sehat

Setelah dinyatakan sehat, OYPMK cuma akan mengalami perubahan pada beberapa bagian tubuhnya, nggak semuanya. Mereka masih bisa melakukan banyak hal seperti yang biasa dilakukan orang normal. Memang ada sedikit fungsi tubuhnya yang kurang maksimal, tapi biasanya mereka bisa mengatasinya dengan cara lain. Jadi, kalian tetep bisa melibatkan OYPMK dalam kegiatan sehari-hari.

 

2. Fakta Sosial

a) Mengalami diskriminasi atau pengucilan

Dalam lingkungan masyarakat, OYPMK sering kali mengalami pengucilan dari orang-orang di sekitarnya. Karena kondisi yang dialaminya, nasib OYPMK tak berbeda sama penyandang disabilitas. Mereka sering kali mengalami diskriminasi. Mereka dikucilkan, diperlakukan nggak adil, jadi bahan gunjingan tetangga, dan lain-lain yang sifatnya negatif. Yang lebih menyedihkan lagi adalah stigma negatif ini diwariskan ke anak cucu, sudah menjadi tradisi. Padahal seharusnya OYPMK bisa hidup normal di lingkungan masyarakat.

b) Ditakuti orang lain

Banyak OYPMK ditakuti bukan karena kecacatan fisik yang dialaminya, tapi anggapan bahwa mereka bisa menularkan kusta. Padahal, secara medis OYPMK nggak bisa menularkan kusta. OYPMK bersih seperti sebelum terserang kusta. Namun, banyak orang yang beranggapan sebaliknya. Mereka merasa takut dan akhirnya nggak mau dekat-dekat dengan OYPMK.

 

3. Fakta Hukum dan HAM

a) Memiliki hak hidup yang sama

OYMPK termasuk penyandang disabilitas akibat penyakit, mereka tetap dikategorikan sebagai disabilitas. Dalam peraturan perundang-undangan, disabilitas memiliki hak yang sama dengan orang normal lainnya yaitu hak hidup sejahtera, mandiri, dan terbebas dari diskriminasi. Mereka juga berhak mendapatkan penghormatan, kesetaraan, perlindungan, dan aksesiilitas.

Jadi hati-hati, ya. Jangan sampai melakukan diskriminasi pada OYPMK atau penyandang disabilitas lain. Selain bertentangan dengan perikemanusiaan, juga bertentangan dengan hukum. Kalau mereka nggak terima, bisa dibawa ke jalur hukum.

b) Berhak mendapat pekerjaan yang layak


Mbak Zakirah, dari PT. Anugrah Froozen Food pemberika pekerjaan untuk orang disabilitas & OYPMK


Selain hak hidup, OYPMK maupun penyandang disabiltas lain juga berhak mendapatkan pekerjaan yang layak sesuai kemampuan yang mereka miliki. Mereka berhak bekerja di bawah naungan pemerintah maupun swasta, sama seperti orang pada umumnya. Mereka berhak memperoleh tugas, tanggung jawab dan upah yang sama. Selain bekerja di bawah naungan orang lain, mereka juga berhak memiliki dan mengembangkan usahanya sendiri.

c) Mendapat hak istimewa dalam bekerja


Sebagai orang dengan kebutuhan khusus, OYPMK dan penyandang disabilitas lain punya hak istimewa yang nggak dimiliki oleh orang normal. Dalam bekerja, mereka berhak mendapat fasilitas yang bisa memudahkan pekerjaan mereka. Jadi mereka tetap bisa produktif sebagaimana mestinya.

Pada kesempatan webinar juga menghadirkan perusahaan yang sudah menerapkan aturan dari pemerintah untuk menerima karyawan baik yang disabilitas maupun OYPMK yaitu PT. Anugerah Frozen Food. Seperti yang disampaikan oleh Mbak Zakirah, bahwasannya perusahaan tersebut menerima karyawan disabilitas maupun OYPMK sebagai bentuk dukungan dan meningkatkan rasa percaya diri mereka dalam hal pekerjaan.

Mas Arfah, Orang yang Pernah Mengalami Kusta


Nah, itu lah teman-teman beberapa hal yang bisa saya bagikan mengenai orang yang pernah mengalami kusta. Jika teman-teman memiliki saudara atau teman dengan nasib seperti Mas Arfah, sebaiknya selalu memberikan dukungan semangat menghadapi masa depan dengan pekerjaan yang layak.


14 komentar:

  1. Kasihan ya selama ini orang yang pernah menderita kusta seolah terkucil padahal udah ga menularkan penyalit. Bukan penyakit kutukan yg memalukan, jd mereka kudu dapat hak untuk bekerja seperti orang normal lainnya.

    BalasHapus
  2. Keren dan salut buat Mbak Zakirah yang mau kasih peluang buat penyandang disabilitas agar bisa bekerja layak seperti orang biasa. OYPMK mestinya diperlakukan seperti orang normal karena punya kontribusi yang sama baiknya.

    BalasHapus
  3. OYPMK ini aku baru tau ada singkatannya
    yg jelas banyak banget stigma yg melekat pd penderita kusta
    semoga edukasi ini berhasil menghapus stigma itu yaaaa

    BalasHapus
  4. Dulu mmg org yg menderita kusta ini dikucilkan di masyarakat ya mba. Terutama masyarakat yg insightnya masih sempit. Skrg Alhamdulillah sudah banyak yg paham. Tp mmg perlu edukasi lbh meluas lg ya

    BalasHapus
  5. Baru tahu tentang OYPMK ini mba. Jadi ingat saja dulu ketika ada penderita kusta dijauhin gitu mba. Semoga dengan adanya informasi ini banyak yang semakin paham ya.

    BalasHapus
  6. Saya tau penyakit kusta itu dari sebuah tayangan drama di TV. Dan seperti yang ada di tayangan itu, saya taunya kusta itu menularkan. Ternyata OYPMK tidak menularkan kusta ya...

    BalasHapus
  7. Saat masih kueciiil, saya pernah tahu OYPMK ini mbak, kebetulan masih ada hubungan saudara dari simbah. Cerita yang saya tangkap, katanya kusta penyakit menurun (saya gak mudeng waktu itu krn masih kecil). ALhamdulillah seingat saya waktu itu, beliau tidak dikucilkan. Tapi kalau yang bagian menurun, tidak terbukti karena beliau tidak memiliki anak.

    Dan semakin besar, saya jadi lebih tahu ttg penyakit kusta ini. Alhamdulillah, selain saudara simbah saya yang mengalami OYPMK tersebut, tidak ada lagi yang terkena penyakit kusta tersebut. Semoga dengan semakin masifnya informasi ttg penyakit kusta ini, masyarakat lebih bisa bertoleransi terhadap OYPMK dan juga semakin berkurang orang yang terkena penyakit ini, at least bisa lebih dicegah penularannya (jk ada yang mengalami kusta)

    BalasHapus
  8. Saya kalau baca Kusta tuh selalu bayangannya ke Nabi Ayub. Ga kebayang penderitaannya jama dulu gimana. Lah yg udah dapat info lengkap gini aja kadang masih banyak yang mengucilkan.

    BalasHapus
  9. Penyakit kusta sering dikucilkan. Padahal bkn penyakit kutukan ya mba. Ini bagus bgt concernnya, ada yg memperhatikan case kayak gini. Harusnya mereka disupport ya bkn malah dipandang sebelah mata, dijauhkan bahkan sulit dpt kesempatan kerja. Mereka jg berhak bahagia.

    BalasHapus
  10. Sosialisasi mengenai informasi medis seperti ini harus digencarkan ya Mak, supaya para penyintas kusta yang sudah sembuh juga bisa mendapatkan kesetaraan sosial di masyarakat

    BalasHapus
  11. Akhirnya ada yang membahas tentang kusta. Edukasi tentang kusta memang harus terus digaungkan ya mam, agar pasien dengan gejala awal segera mendapat penanganan dan menghapus stigma2 negatif kusta.

    BalasHapus
  12. betul banget mba ivon, banyaknya si penderita jadi korban dikucilkan gitu terutama di daerah-daerah bisa diasingkan.

    BalasHapus
  13. Mindset saya tentang kusta dari kecil tuh mengira memang penyakit yang mengerikan dan menular sehingga sering merasa takut sendiri kalau denger kusta padahal faktanya kasian yah mereka OYPMK ini pastinya karena stigma yang buruk didiskriminasi dari lingkungan

    BalasHapus
  14. Kecenderungan masyarakat Indonesia ini memang kadang terlalu sensitif, sampai-sampai penyakit juga bisa ditakuti. Tapi ini edukais baik untuk disosialisasik, supaya ke depan kalau punya teman atau siapapun yang mengalaminya, justru nggak perlu khawatir dekat2 dengannya yaa.

    BalasHapus